Jumat, 18 Desember 2009

Kesalahan Tertinggi

Dalam hidupku tak pernah semuanya berjalan dengan sempurna. Pasti selalu ada kekurangan dan ketidak puasan dalam diriku. Namun aku selalu mensyukurinya karena dalam ketidaksempurnaan itulah aku memperoleh kesempurnaanku. Itulah yang selalu aku katakan pada diriku sendiri. Namun pada suatu ketika aku bertemu dengan seseorang yang dari kisah hidupnya ku tahu ada sesuatu yang disebut dengan kesalahan tertinggi dalam hidup. Ceritanya berawal dari pertemuanku dengannya yang tidak pernah kuduga. Dia begitu kurus. Matanya yang sayu menunjukkan bahwa ia sedang menderita sakit. Yang selanjutnya ku tahu bahwa HIV telah merusak tubuhnya dan hanya waktu yang tahu kapan hidupnya akan berakhir. Dia lalu bercerita tentang awal dari kehancurannya. Semua indah pada awalnya. Dia memiliki semua yang mungkin kebanyakan orang inginkan. Keluarga yang bahagia, materi yang mencukupi dan kehidupan yang sangatlah sempurna menurut pengliharanku. Entah kapan petaka itu datang dalam kehidupannya. Semua kesempurnaan yang kupikir ada dalam genggamannya ternyata hanyalah kesempurnaan semu. Dia tidak benar-benar bahagia…semua yang ia miliki ternyata tak mampu membuatnya bahagia. Dia selalu merasa kesepian..ia selalu merasa sendiri…sampai ia bertemu dengan narkoba yang dia pikir adalah sahabat terbaiknya. Setelah cukup lama bersahabat denganya, tiba-tiba dia jatuh saklit…sakit ringan dia pikir, tapi tak kunjung sembuh. Sampai akhirnya dia mengetahui bahwa darahnya telah kotor. Penyesalan demi penyesalan menghantui hidupnya. Dia menangis sejadi-jadinya sembari berteriak-teriak…hidupku hancur…! Tak ada harapan lagi…! Aku sudah tak ingin hidup lagi…! Baik aku mati saja…!
Astaghfirullah hal adzim... aku tak dapat menahan diri ku lagi. Lalu aku berteriak padanya “Siapa kamu berani menentukan hidup dan mati! Kita bukanlah siapa-siapa. Kita hanya sebutir debu yang diterbangkan angin. Kita tak punya kekuatan untuk menentang takdir-Nya. Kau bilang hidupmu sudah hancur dan tak ada harapan lagi…kamu pikir kamu yang mempunyai kuasa penuh atas dirimu?! Tidak! Kita masih punya Tuhan yang mempunyai kusa atas diri kita. Keputusasaanmu itulah yang telah menghancurkan dirimu sendiri! Maka segeralah kamu bersujud dan memohon ampun pada-Nya!…bertaubatlah karna hanya Dia lah yang dapat memberikan terang dalam hidupmu. Karena hanya Dialah tempat mu memohon. Karena Dia lah tempat mu kembali. Raihlah cinta-Nya karena cinta itu yang akan memberikan kedamaian dalam hatimu… ingatlah bahwa Allah SWT tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan mahluknya. Jika Ia memberikan suatu cobaan yakinlah bahwa Ia pasti juga akan memberikan jalan keluarnya untukmu. Dia hanya ingin mengetahui seberapa besar kamu percaya padaNya, seberapa besar iman yang kau punya untukNya. Seharusnya kamu merasa bahagia karena melalui cobaan ini kamu akan mengetahui bahwa Allah sangat menyayangi mu. Dia ingin kau selalu ingat padaNya.
Dia tertunduk membisu….
Ya Allah…ampunilah aku…ampunilah aku…ampunilah aku…lindungilah aku dari hal-hal yang dapat membutakan mata ku juga hatiku. Lindungilah aku dari hal-hal yang dapat membuat ku terperosok dalam kegelapan mutlak dan membuat tanganku tak mampu meraih cinta dan cahaya Mu. Ya Allah hanya padaMu lah aku memohon… perkenankanlah permohonanku ini ya Allah….Amin…

Bersatunya Awal dan Akhir

Awal dan akhir…apa itu awal? Apa itu akhir? Ada yang bilang jika awal adalah permulaan dari sesuatu dan akhir merupakan penutup atau ending dari sesuatu.aku heran kenapa mereka dapat dengan mudah membedakan dan memisahkan keduanya. Namun, jika kau tanyakan padaku apa itu awal dan apa itu akhir serta membedakan keduanya…maka aku akan berkata bahwa aku tidak dapat membedakan awal dan apa itu akhir. Yang aku tahu di setiap awal pasti ada akhir. Sedangkan akhir selalu merupakan awal dari sesuatu yang baru lagi. Jadi…jika kau tanyakan definisi dari awal dan akhir aku pasti akan kesulitan untuk menjawabnya. Lalu jika kau kembali menanyakan padaku kapankah awal dan akhir itu bersatu, maka aku akan menjawab bahwa mereka selalu bersama dan tidak dapat dipisahkan. Bayangkan saja kehidupan ini. Ketika kita dilahirkan, kita menyebutnya dengan awal dari kehidupan. Namun bersamaan dengan awal dari kehidupan itu, akhir juga telah ikut dilahirkan.eh…sebentar..sebentar..tiba-tiba aku ingat bahwa ternyata jauh sebelum kita dilahirkan, kita juga sudah mempunyai awal tapi aku tidak yakin tentangnya. Tapi yang jelas, awal dan akhir seperti lingkaran yang tak pernah berhenti berputar yang tanpa kita sadari sebenarnya selalu menghantui setiap detik kehidupan manusia. Apa yang kita tadi ku sebut dengan awal dari kehidupan sebenarnya adalah permulaan dari akhir kehidupan. Hanya waktu yang menjadi batas antara keduanya. Namun aku menyadari bahwa batas itu juga ternyata sangatlah tipis. Sehingga seperti apa yang kukatakan tadi, aku tidak dapat memisahkan awal dari akhir maupun akhir dari awal. Karena mereka selalu bersama dan takterpisahkan. Dulu aku berpikir ketika aku lulus SD maka itulah akhir. Tapi akhir itulah yang mengawali kehidupanku di SMP dan begitu seterusnya sampai….tak tau lah kapan itu. Tapi yang jelas aku menyadari sesuatu yang membuatku sedih… Mudah-mudahan Allah SWT mengampuni dosa-dosa ku karena terlalu banyak dosa-dosa yang telah ku perbuat sementara aku sadar bahwa kehidupankupun mulai menuju akhinya dan disaat yang bersamaan aku yakin aku juga akan memulai perjalananku menuju kehidupan baruku yang abadi. Dimana tidak aka nada lagi awal maupun akhir… Hanya keabadian. Mudah-mudahan petualanganku yang baru ini merupakan petualangan yang indah. Seperti yang diharapkan oleh kebanyakan orang di dunia ini. Amin.

"Aku"

Perkenalkan, namaku Dian Puspitasari. Orang memanggilku Dian. Jika kau tanya siapa dian itu? Yang mana sih orangnya? Jawabanku mungkin akan sama dengan jawaban kebanyakan dari mereka. Dian itu lho yang hitem manis tu..yang baik itu..yang agak pendiam itu, (narsis dikit nih critane), atau dian tu pake jilbab, orangnya manis, pendeknya eh tingginya ± 150cm dan sekarang lagi belajar lagi di UNY. Atau mungkin kalau ada yang agak iri sama kemanisan ku mungkin akan bilang..dian yang sok itu kan? Mentang-mentang nerusin lagi di S-2..lagaknya..kaya yang paling pinter ja. He..he..he.. Mudah-mudahan saja tak ada yang seperti itu…tapi itu semua kan cuma yang tampak saja dan juga yang berdasarkan penilaian orang saja. Lalu, sebenernya siapa aku? Seperti apa aku yang sebenarnya itu?
Kita mulai dengan pertanyaan “siapa aku?” Pertanyaan ini mengingatkanku ketika pak Marsigit bertanya di kelas LT A “Siapa pak Marsigit itu? Apakah dosen filsafat itu?”. Lalu beliau berkata, “padahal ada Marsigit yang bukan dosen, ada juga Marsigit yang jadi dodkter dan banyak lagi yang lainnya.” “lalu” beliau meneruskan, “apakah ini pak Marsigit?” tanya beliau seraya menunjuk ke dadanya. “bukan. Ini dada pak Marsigit.” Jawab beliau. Trus kalau ini bukan itu bukan, pak Marsigit itu yang mana??? Ketika ku ganti subjeknya, bukan pak marsigit lagi tapi aku, perenungan panjang menghampiriku. Siapa sih aku? Siapa sih dian itu?
Sejauh yang bisa ku ingat, aku ada ketika unsur-unsur pembentukku bertemu dalam rahim ibuku. Itulah awalku di dunia rahim. Tapi nantinya aku juga akan meragukan pernyataan ini. Setidaknya itu versi singkat dari awalku. Lalu, setelah aku dilahirkan ke dunia ini, sedikit demmi sedikit aku mulai belajar untuk mengenal dunia ini. Sedikit demi sedikit otakku bekerja untuk mengidentifikasi semua yang ada di sekitarku. Lalu aku mulai menerapkan apa yang ku ketahui itu tadi dengan belajar mengungkapkannya dalam sebuah tuturan. Dan seterusnnya…dan seterusnya..belajar sedikit demi sedikit lama kelamaan aku mempunuai pengalaman-pengalaman yang juga menjadi tempat ku belajar. Berdasarkan semua itu aku tumbuh menjadi Dian yang saat ini sedang mengerjakan tugas filsafat. Jadi, “Dian” itu adalah apa yang aku palajari. “Dian” itu adalah semua pengalaman yang ku miliki. Tapi, apakah itu saja cukup untuk menjelaskan siapa Dian itu? Bagaimana dengan semua hal yang ku bayangkan. Bagaimana dengan semua hal yang ku impikan? Apakah itu semua tidak dapat dikategorikan sebagai unsur pembentuk Dian? Bagaimana dengan…lalu bagaimana dengan…trus yang itu….yang lainnya gimana dong?
Ah terlalu banyak tanya kau!
Lho, kok sewot to? Kamu yang lagi sewot juga bagian dari aku kan? Weleh..welah..kook ribet banget ya..
Eh sebentar…sebentar…kalau yang sewot tadi juga aku…berarti di dalam diriku juga tenyata terdapat banyak “aku” wah..wah..tambah bingung nih…
Kalau diingat-ingat, bener juga ya..selama ini aku juga mempunyai banyak peranan...semisal aku berkata bahwa Dian itu “guru”…sepertinya itu tidak cukup untuk menjelaskan siapa aku. Kenapa bisa seperti itu? Jawabannya adalah karena “aku” tidak hanya seorang guru. “aku” saat ini juga seorang mahasiswi UNY. Apakah itu berarti “aku” adalah seorang guru yang pada saat bersamaan menjadi mahasiswa di UNY? Sepertinya itu juga belum cukup, karena masih ada lho “dian” yang lain..si anak pertama lah..dian yang pernah aktif di paduan suara lah..Dian yang inilah..Dian yang itulah..whaduh…kok buanyak sekali ternyata…lalu bagaimana caranya menjawab pertanyaan “siapa aku?” tadi… Untung pertanyaan itu tadi ada sebelum aku berumah tangga, kalau tidak “aku”nya pasti akan bertambah. Tapi itu semua belum termasuk sifat-sifat yang ku miliki. Dian yang katanya nggak banyak omong dan kalem lah..tapi kadang aku pikir aku juga banyak omong lho bahkan bisa dibilang aku tu cerewet banget. Lalu, ada lagi Dian yang katanya sabar lah..padahal kadang aku juga tidak sabaran.
Lalu, apa ya yang bisa ku katakan tentang “aku”? sepertinya kata-kata ku tidak cukup untuk dapat menjawab pertanyaan itu. Sepertinya kata-kata ku tidak cukup untuk mendefinisikan diriku sendiri. Sepertinya apa yang ku ketahui tentang diriku tidak cukup untuk mendeskripsikan siapa aku. Sepertinya……Yang ku tahu, seperti inilah aku, raga yang diisi dengan pertanyaanku, pengetahuanku sekaligus ketidak tahuanku, mimpiku dan sadarku, harapanku, cita-citaku, kepastianku dan ketidak pastianku.bahkan hidupku dan matikupun ada dalam diriku..sepertinya masih ada lagi yang belum kusebutkan..tapi tak apa lah untuk sementara. Aku minta maaf jika ada diriku yang belum ku sebut. Dalam perenungan berikutnya mungkin akan terbuka sedikit demi sedikit siapa diriku sebenarnya. Mudah-mudahan saja setelah belajar filsafat dari pak Marsigit aku bisa sedikit saja mempelajari kebijakan beliau..dan akhirnya aku tahu siapa sebenarnya aku ini.

Bahasa Sehat dan Bahasa Sakit

Bahasa merupakan suatu symbol yang kita gunakan dalam menyampaikan ide/pikiran kita. Tanpa bahasa kita mungkin akan kesulitan dalam memahami maksud, tujuan, keinginan orang lain. Selain itu kita juga tidak akan mampu nenyampaikan apa yang kita inginkan, harapkan, maksudkan pada orang lain. Dalam penggunaanya, kita tentunya harus memperhatikan kaidah-kaidah ataupun aturan-aturan yang telah disepakati bersama atau yang dalam bahasa Indonesia kita kenal dengan “EYD”
Seiring dengan berjalannya waktu, bahasa mengalami bannyak sekali perubahan/ perkembangan. Hal ini dikarenakan kebutuhan manusia akan bahasa itu juga berkembang. Manusiapun semakin lama semakin pandai dalam memodifikasi bahasa sehinga mucullah bahasa – bahasa yang menurut telinga kita aneh namun mempunyai makna berterima. Orang pun dapat menggunakan bahasa sebagai suatu lelucon yang menggelikan namun tetap kita bisa menerimanya dengan baik. Lihat saja seorang pelawak yang mengatakan “kita harus ikut berpartisiapi dalam pembangunan.” Dilihat dari segi kebahasaan, kita tidak dapat menemukan kata “berpartisisapi”, namun kita tahu bahwa kata itu mempunyai arti yang sama dengan “berpartisipasi”. Selain fakta tersebut, dalam kehidupan sehari-hari kita sering kita jumpai satu lagi bahasa yang katanya merupakan tren masa kini yaitu “bahasa gaul”. Bahasa ini sering sekali digunakan oleh anak muda jaman sekarang dalam pergaulan sehari-hari mereka. bahasa yang katanya baru manun sebenarnya hanya menrupakan bahasa yang “dimodifikasi” sehingga membentuk suatu bahasa baru yang sedikit membingungkan tentunya bagi mereka yang tidak mengetahui polanya. Mungkinkah ini yang dimaksud dengan bahasa sakit karena bahasa gaul ataupun plesetan-plesetan ini menyalahi aturan-aturan yang telah ditetapkan. Sedangkan para penggunanya, karena mereka sengaja menyimpang dari kaidah yang telah ditetapkan maka dapat kita sebut sebagai orang yang “sakit.” Betapa tidak, mereka yang sakit berarti di dalam tubuhnya terdapat virus yang merusak jaringan dalam tubuhnya sehingga tubuhnya tidak dapat bekerja dengan normal. Dalam kaitannya dengan bahasa, virus tersebut berupa tata bahasa yang melenceng dari aturan yang telah ditetapkan. Oleh sebab itu, bahasa yang melenceng dari aturan-aturan yang telah ditetapkan sebagai bahasa sakit dan mereka yang menggunakan bahasa tersebut adalah mereka yang pola pikirnya telah terjangkit virus bahasa itu, sehingga kita dapat menyebut mereka sebagai orang sakit.