Perkenalkan, namaku Dian Puspitasari. Orang memanggilku Dian. Jika kau tanya siapa dian itu? Yang mana sih orangnya? Jawabanku mungkin akan sama dengan jawaban kebanyakan dari mereka. Dian itu lho yang hitem manis tu..yang baik itu..yang agak pendiam itu, (narsis dikit nih critane), atau dian tu pake jilbab, orangnya manis, pendeknya eh tingginya ± 150cm dan sekarang lagi belajar lagi di UNY. Atau mungkin kalau ada yang agak iri sama kemanisan ku mungkin akan bilang..dian yang sok itu kan? Mentang-mentang nerusin lagi di S-2..lagaknya..kaya yang paling pinter ja. He..he..he.. Mudah-mudahan saja tak ada yang seperti itu…tapi itu semua kan cuma yang tampak saja dan juga yang berdasarkan penilaian orang saja. Lalu, sebenernya siapa aku? Seperti apa aku yang sebenarnya itu?
Kita mulai dengan pertanyaan “siapa aku?” Pertanyaan ini mengingatkanku ketika pak Marsigit bertanya di kelas LT A “Siapa pak Marsigit itu? Apakah dosen filsafat itu?”. Lalu beliau berkata, “padahal ada Marsigit yang bukan dosen, ada juga Marsigit yang jadi dodkter dan banyak lagi yang lainnya.” “lalu” beliau meneruskan, “apakah ini pak Marsigit?” tanya beliau seraya menunjuk ke dadanya. “bukan. Ini dada pak Marsigit.” Jawab beliau. Trus kalau ini bukan itu bukan, pak Marsigit itu yang mana??? Ketika ku ganti subjeknya, bukan pak marsigit lagi tapi aku, perenungan panjang menghampiriku. Siapa sih aku? Siapa sih dian itu?
Sejauh yang bisa ku ingat, aku ada ketika unsur-unsur pembentukku bertemu dalam rahim ibuku. Itulah awalku di dunia rahim. Tapi nantinya aku juga akan meragukan pernyataan ini. Setidaknya itu versi singkat dari awalku. Lalu, setelah aku dilahirkan ke dunia ini, sedikit demmi sedikit aku mulai belajar untuk mengenal dunia ini. Sedikit demi sedikit otakku bekerja untuk mengidentifikasi semua yang ada di sekitarku. Lalu aku mulai menerapkan apa yang ku ketahui itu tadi dengan belajar mengungkapkannya dalam sebuah tuturan. Dan seterusnnya…dan seterusnya..belajar sedikit demi sedikit lama kelamaan aku mempunuai pengalaman-pengalaman yang juga menjadi tempat ku belajar. Berdasarkan semua itu aku tumbuh menjadi Dian yang saat ini sedang mengerjakan tugas filsafat. Jadi, “Dian” itu adalah apa yang aku palajari. “Dian” itu adalah semua pengalaman yang ku miliki. Tapi, apakah itu saja cukup untuk menjelaskan siapa Dian itu? Bagaimana dengan semua hal yang ku bayangkan. Bagaimana dengan semua hal yang ku impikan? Apakah itu semua tidak dapat dikategorikan sebagai unsur pembentuk Dian? Bagaimana dengan…lalu bagaimana dengan…trus yang itu….yang lainnya gimana dong?
Ah terlalu banyak tanya kau!
Lho, kok sewot to? Kamu yang lagi sewot juga bagian dari aku kan? Weleh..welah..kook ribet banget ya..
Eh sebentar…sebentar…kalau yang sewot tadi juga aku…berarti di dalam diriku juga tenyata terdapat banyak “aku” wah..wah..tambah bingung nih…
Kalau diingat-ingat, bener juga ya..selama ini aku juga mempunyai banyak peranan...semisal aku berkata bahwa Dian itu “guru”…sepertinya itu tidak cukup untuk menjelaskan siapa aku. Kenapa bisa seperti itu? Jawabannya adalah karena “aku” tidak hanya seorang guru. “aku” saat ini juga seorang mahasiswi UNY. Apakah itu berarti “aku” adalah seorang guru yang pada saat bersamaan menjadi mahasiswa di UNY? Sepertinya itu juga belum cukup, karena masih ada lho “dian” yang lain..si anak pertama lah..dian yang pernah aktif di paduan suara lah..Dian yang inilah..Dian yang itulah..whaduh…kok buanyak sekali ternyata…lalu bagaimana caranya menjawab pertanyaan “siapa aku?” tadi… Untung pertanyaan itu tadi ada sebelum aku berumah tangga, kalau tidak “aku”nya pasti akan bertambah. Tapi itu semua belum termasuk sifat-sifat yang ku miliki. Dian yang katanya nggak banyak omong dan kalem lah..tapi kadang aku pikir aku juga banyak omong lho bahkan bisa dibilang aku tu cerewet banget. Lalu, ada lagi Dian yang katanya sabar lah..padahal kadang aku juga tidak sabaran.
Lalu, apa ya yang bisa ku katakan tentang “aku”? sepertinya kata-kata ku tidak cukup untuk dapat menjawab pertanyaan itu. Sepertinya kata-kata ku tidak cukup untuk mendefinisikan diriku sendiri. Sepertinya apa yang ku ketahui tentang diriku tidak cukup untuk mendeskripsikan siapa aku. Sepertinya……Yang ku tahu, seperti inilah aku, raga yang diisi dengan pertanyaanku, pengetahuanku sekaligus ketidak tahuanku, mimpiku dan sadarku, harapanku, cita-citaku, kepastianku dan ketidak pastianku.bahkan hidupku dan matikupun ada dalam diriku..sepertinya masih ada lagi yang belum kusebutkan..tapi tak apa lah untuk sementara. Aku minta maaf jika ada diriku yang belum ku sebut. Dalam perenungan berikutnya mungkin akan terbuka sedikit demi sedikit siapa diriku sebenarnya. Mudah-mudahan saja setelah belajar filsafat dari pak Marsigit aku bisa sedikit saja mempelajari kebijakan beliau..dan akhirnya aku tahu siapa sebenarnya aku ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar